RINGKASAN PENGEMBANGAN MODEL WORK ENGAGEMENT BERBASIS EMPOWERMENT LEADERSHIP TERHADAP KINERJA PERAWAT Dessy Syahfitri Pohan Kinerja perawat berkaitan erat dengan mutu pelayanan keperawatan yang ada. Semakin baik kinerja perawat, maka akan semakin baik pula mutu pelayanan keperawatannya. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kinerja perawat, salah satunya adalah dengan menumbuhkan work engagement dalam diri masing-masing perawat. Model yang diteliti dalam penelitian ini dapat menjadi suatu intervensi baru dalam meningkatkan kinerja perawat. Work engagement merupakan bentuk keterikatan diri perawat terhadap pekerjaannya. Dengan adanya work engagement dalam diri masing-masing perawat, perawat akan bekerja dengan totalitas dan mencapai tujuan dari organisasi ataupun pekerjaannya. Sedangkan empowerment leadership merupakan bentuk perilaku pemimpin sebagai upaya untuk memberdayakan karyawan agar terciptanya bawahan yang memiliki tanggungjawab melalui otonomi atas pekerjaan yang diberikan. Work engagement berbasis empowerment leadership merupakan kombinasi untuk mendorong bawahan menjadi mandiri, bertanggungjawab, memiliki kompetensi, dan memiliki motivasi yang tinggi terhadap pekerjaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan work engagement berbasis empowerment leadership terhadap kinerja perawat di ruang rawat inap. Work engagement terdiri dari tiga dimensi, yaitu vigor, absorption, dan dedication. Vigor merupakan semangat dan motivasi dalam melakukan pekerjaannya, absorption merupakan rasa menyatu dengan pekerjaannya, dan dedication merupakan bentuk dedikasi terhadap pekerjaan dan organisasinya. Empowerment leadership dapat menjadi tipe kepemimpinan yang berbeda baik secara konseptual maupun empiris, melalui penekanan pada aspek yang berbeda dari proses kepemimpinan lainnya, seperti mendorong bawahan untuk mengambil inisiatif, menekankan fokus bawahan pada tujuan, menunjukkan kepercayaan pada bawahan untuk meningkatkan rasa self-efficacy dan motivasi mereka dan memberikan dukungan pengembangan untuk meningkatkan keterampilan bawahan. Penelitian ini dibangun atas teori JD-R model (Schaufeli et al, 2002), empowerment leadership model (Kirkman, 2015), dan kompetensi kinerja (KMK, 2020). Kerangka konsep penelitian menunjukkan bahwa job resources, personal resources, job demands, dan faktor pemberdayaan mempengaruhi work engagement dan kinerja perawat. Selain itu, work engagement yang dikombinasikan dengan empowerment leadership juga dapat meningkatkan kompetensi kinerja perawat yang terdiri dari praktik berdasarkan etik, legal, peka budaya, praktik keperawatan professional, kepemimpinan dan manajemen, Pendidikan dan penelitian, serta pengembangan kualitas personal dan profesional. Penelitian ini dilaksanakan melalui dua tahap, penelitian tahap pertama yaitu menggunakan desain penelitian explanatory survey dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat yang bekerja di ruang rawat inap RSUD Bangil. Sampel penelitian dihitung menggunakan rumus rule of the thumb dengan besar sampel 120 responden dan diambil dengan cara purposive sampling dengan memperhatikan kriteria inklusi dan ekslusi. Variabel independen dalam penelitian ini adalah job resources (level organisasi, dukungan interpersonal, tingkatan pekerjaan, dan level tugas), personal resources (optimisme, self-efficacy, organizational based self-esteem, job demands (penjadwalan kerja, beban kerja dan kecepatan kerja, muatan kerja, dan kendali kerja), faktor pemberdayaan (otonomi, kompetensi, kebermaknaan pekerjaan, dan impact), dan work engagement berbasis empowerment leadership. Sedangkan variabel dependen dalam penilitian ini adalah kinerja perawat (praktik berdasarkan etik, legal, dan peka budaya, praktik keperawatan professional, kepemimpinan dan manajemen, pendidikan dan penelitian, pengembangan kualitas personal dan professional). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Penelitian tahap kedua yaitu menyusun modul pengembangan model work engagement berbasis empowerment leadership terhadap kinerja perawat melalui hasil temuan pada tahap 1 yaitu focus group discussion (FGD) dan konsultasi pakar. FGD I dilakukan dengan 12 perawat pelaksana dan FGD II dilakukan dengan 19 peserta berupa perawat struktural. Kegiatan FGD masing-masing dilakukan selama 45 menit, FGD dilakukan untuk mencari solusi dari isu strategis yang telah ditentukan. Hasil dari FGD 1 dan 2, semua isu strategis yang muncul disetujui dan dibahas bersama-sama mengenai penyebab dan solusinya. Setelah dilakukannya FGD 1 dan 2, selanjutnya dilakukan konsultasi pakar yang dilakukan bersama dengan Guru Besar Keperawatan sekaligus Dosen Senior di Fakultas Keperawatan Universitas Arilangga (Prof. Dr. H. Nursalam, M.Nurs (Hons), konsultasi pakar dilakukan selama 45 menit untuk mendapatkan masukan dari draf modul yang telah dibuat. Hasil penelitian pada tahap 1 menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara job resources (T=2,106), personal resources (T=6,391), job demands (3,667), dan faktor pemberdayaan (T=6,102) terhadap work engagement berbasis empowerment leadership, ada pengaruh antara job resources (T=2,458), personal resources (T=5,799), job demands (2,395), dan faktor pemberdayaan (T=3,911) terhadap kinerja perawat, dan ada pengaruh antara work engagement berbasis empowerment leadership terhadap kinerja perawat dengan nilai T=4,382. Sedangkan hasil pada penelitian tahap kedua yaitu terbentuknya modul work engagement berbasis empowerment leadership terhadap kinerja perawat berdasarkan penelitian yang telah dilakukan melalui penemuan isu strategis (dukungan interpersonal, self-efficacy, motivasi, penjadwalan kerja, absorption, etik, legal, peka budaya, serta pengembangan kualitas personal dan professional), kemudian pelaksanaan FGD 1 dan 2, dan dilanjutkan dengan pelaksanaan konsultasi pakar. Setelah ketiga tahap tersebut dilakukan, selanjutnya dilakukan pembuatan modul yang berisi deskripsi modul, tujuan modul, dan materi dalam modul. Output yang dihasilkan dari modul penelitian ini adalah terbentuknya/ meningkatnya engaged perawat melalui pemberdayaan kepemimpinan. Dosis penelitian dilakukan selama tiga bulan penuh untuk menciptakan rasa engaged perawat. Job resources (level organisasi, dukungan interpersonal, tingkatan pekerjaan, dan level tugas), personal resources (optimism, self-efficacy, organizational based self-esteem, dan motivasi), job demands (penjadwalan kerja, beban kerja dan kecepatan kerja, muatan kerja, serta kendali kerja), dan faktor pemberdayaan (otonomi, kompetensi, kebermaknaan pekerjaan, dan impact) akan meningkatkan work engagement berbasis empowerment leadership (wigor, absorption, dan dedication) dalam meningkatkan kinerja perawat (praktik berdasarkan etik, legal, peka budaya, praktik keperawatan professional, kepemimpinan dan manajemen, pendidikan dan penelitian, serta pengembangan kuaitas personal dan professional). Temuan baru yang dihasilkan adalah pengambangan model work engagement berbasis empowerment leadership terhadap kinerja perawat. Model ini merupakan model integrasi pendekatan work engagement berbasis empowerment leadership yang digunakan untuk meningkatkan kinerja. Work engagement dikembangkan dengan pendekatan empowerment leadership telah menghasilkan kinerja perawat yang lebih baik lagi melalui vigor, absorption, dan dedication. Sangat penting untuk diperhatikan bahwa work engagement ini perlu diiringi dengan pemberdayaan dari organisasi melalui power sharing, dukungan motivasi, dan dukungan pengembangan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh yang signifikan antara job resources, personal resources, job demands, dan faktor pemberdayaan terhadap work engagement berbasis empowerment leadership, serta terdapat pengaruh yang signifikan antara job resources, personal resources, job demands, dan faktor pemberdayaan terhadap kinerja perawat. Temuan baru dalam penelitian ini yaitu dengan mengkombinasikan intervensi work engagement dengan empowerment leadership untuk meningkatkan kinerja perawat. Pengembangan model ini dapat digunakan sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan kinerja perawat melalui empowerment leadership, kinerja perawat dapat ditingkatkan melalui komponen yang ada di dalamnya, yaitu power sharing, dukungan motivasi, dan dukungan pengembangan.