COST-EFFECTIVENESS ANALYSIS CEFTRIAXONE DAN CEFIXIME PADA PASIEN DEMAM TIFOID RAWAT INAP BPJS DI RS X JANUARI 2025–MARET 2026
ABSTRAK
Pendahuluan: Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh Salmonella
typhi dan masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Tingginya angka kejadian serta lamanya
durasi perawatan di rumah sakit dapat meningkatkan beban biaya medis, khususnya pada sistem
pembiayaan kesehatan seperti BPJS. Ceftriaxone dan cefixime merupakan antibiotik yang sering
digunakan dalam terapi demam tifoid, namun perbandingan efektivitas biayanya masih perlu
dianalisis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cost-effectiveness penggunaan
ceftriaxone dan cefixime pada pasien demam tifoid rawat inap di Rumah Sakit X Kabupaten
Karawang berdasarkan pembiayaan BPJS. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif
komparatif dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan secara retrospektif dari rekam
medis dan data billing pasien periode Januari 2025 Maret 2026 dengan teknik total sampling.
Analisis biaya dilakukan dari perspektif provider (rumah sakit) dengan menghitung biaya medis
langsung yang ditanggung selama perawatan pasien. Variabel yang dianalisis meliputi karakteristik
pasien, jenis antibiotik, efektivitas klinis (lama rawat inap dan waktu bebas demam), serta biaya
medis langsung. Analisis dilakukan menggunakan metode Cost-Effectiveness Analysis (CEA) melalui perhitungan Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER). Hasil: Dari 30 pasien, sebanyak 22 pasien menggunakan ceftriaxone dan 8 pasien
menggunakan cefixime. Rata-rata total biaya medis langsung pada terapi ceftriaxone sebesar
Rp1.469.404 per pasien, sedangkan pada terapi cefixime sebesar Rp1.468.168 per pasien. Rata-rata
lama rawat inap pada terapi ceftriaxone adalah 4,18 hari dan cefixime 4,50 hari, sedangkan rata-rata
waktu bebas demam pada terapi ceftriaxone adalah 2,77 hari dan cefixime 4,25 hari. Nilai ACER
ceftriaxone lebih rendah dibandingkan cefixime pada parameter lama rawat inap maupun waktu
bebas demam. Nilai ICER sebesar Rp217,67 untuk lama rawat inap dan Rp32,97 untuk waktu bebas
demam menunjukkan bahwa peningkatan efektivitas terapi ceftriaxone diperoleh dengan tambahan
biaya yang relatif kecil dibandingkan cefixime. Kesimpulan: Terapi ceftriaxone menunjukkan
efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan cefixime dengan tambahan biaya yang relatif kecil,
sehingga dapat dipertimbangkan sebagai terapi yang lebih cost-effective pada pasien demam tifoid
rawat inap di Rumah Sakit X.
Kata Kunci: CEA, cefixime, ceftriaxone, demam tifoid
Detail Information
Citation
Fitria Handayani. (2026).
COST-EFFECTIVENESS ANALYSIS CEFTRIAXONE DAN CEFIXIME PADA PASIEN DEMAM TIFOID RAWAT INAP BPJS DI RS X JANUARI 2025–MARET 2026(Publish).Bekasi:Prodi S1 Farmasi STIKes Mitra Keluarga
Fitria Handayani.
COST-EFFECTIVENESS ANALYSIS CEFTRIAXONE DAN CEFIXIME PADA PASIEN DEMAM TIFOID RAWAT INAP BPJS DI RS X JANUARI 2025–MARET 2026(Publish).Bekasi:Prodi S1 Farmasi STIKes Mitra Keluarga,2026.Skripsi S1 Farmasi
Fitria Handayani.
COST-EFFECTIVENESS ANALYSIS CEFTRIAXONE DAN CEFIXIME PADA PASIEN DEMAM TIFOID RAWAT INAP BPJS DI RS X JANUARI 2025–MARET 2026(Publish).Bekasi:Prodi S1 Farmasi STIKes Mitra Keluarga,2026.Skripsi S1 Farmasi
Fitria Handayani.
COST-EFFECTIVENESS ANALYSIS CEFTRIAXONE DAN CEFIXIME PADA PASIEN DEMAM TIFOID RAWAT INAP BPJS DI RS X JANUARI 2025–MARET 2026(Publish).Bekasi:Prodi S1 Farmasi STIKes Mitra Keluarga,2026.Skripsi S1 Farmasi